Ketika
remaja belajar dan mendapat izin melakukan tindakan berbahaya dari orang
tuanya. Warga Dusun Cuet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo
terkejut dengan adanya suara dentuman keras pada Minggu (01/03/2026) pukul
17:15 WIB. Suara tersebut berasal dari sebuah rumah yang menjadi markas
perakitan petasan. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, ledakan tersebut
terjadi karena merakit petasan, sebagaimana dikutip dalam detik.com.
Meskipun
tidak ada statistik resmi dari pemerintah maupun lembaga terkait, dalam satu
bulan terakhir sudah terjadi 3 kejadian mengenai ledakan petasan. Tiga kejadian
tersebut berada di Grobogan, Tulungagung dan Ponorogo dengan skema yang sama
yaitu remaja/pelajar terkena ledakan petasan yang dirakit. Berdasarkan
informasi dari TribunNews Surabaya, kejadian di Ponorogo menewaskan satu orang
remaja dan dua korban lainnya terkena luka bakar serta satu rumah hancur 90%. AKP
Imam Mujali menghimbau masyarakat untuk menghentikan tradisi ini di Ponorogo.
“Tradisi Ponorogo saat puasa memang banyak buat petasan dan balon udara. Kita mengimbau masyarakat Ponorogo sudahlah jangan membuat petasan, tidak ada untungnya. Terbukti dengan kejadian-kejadian sebelumnya dan saat ini ada korban meninggal dunia,” katanya dikutip dari detik.com.
Seorang anak yang tewas merupakan anak dari seorang ibu yang
menggunakan rumahnya sebagai markas perakitan petasan musiman. Mendengar kabar
ini, saya terpikirkan untuk sedikit menjelaskan ada peran orang tua mengapa hal
ini terjadi. Tanpa mengurangi rasa duka pada keluarga korban, mari kita
sama-sama belajar memahami mengapa remaja bisa terpikirkan merakit balon yang
membahayakan diri.
Dalam teori kognitif sosial, Albert Bandura menjelaskan bahwasanya
pembelajaran tidak hanya melalui verbal atau teoritis. Kerangka pembelajaran
yang menjelaskan hal tersebut yaitu pembelajaran observasional. Pembelajaran
ini mencakup kegiatan belajar yang bisa dilakukan dengan cara memperhatikan
atau menyimak cara berperilaku suatu individu. Singkatnya, seseorang dapat
belajar melalui apa yang ia lihat dan dengar dari seseorang. Dalam konteks ini,
korban belajar melalui orang tuanya. Mengapa demikian? Ibu dari korban memang
sudah terbiasa merakit petasan dari beberapa tahun yang lalu. Hal ini membuat
seorang anak melihat aktivitas orang tuanya sebagai contoh. Dengan demikian,
anak beranggapan bahwa merakit petasan merupakan tindakan yang diperbolehkan.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena orang tuanya melakukan hal demikian
sehingga larangan verbal/lisan tidak efektif kalaupun ada.
Mengacu informasi dari TribunNews Surabaya, warga sekitar juga
telah menegur pemilik rumah sekaligus ibu korban agar menghentikan aktivitas
berbahaya tersebut. Namun, peringatan tersebut tidak dilaksanakan. Hal ini
menunjukkan lingkungan sekitar berusaha memengaruhi tindakan tersebut. Dalam teori
kognitif sosial, Albert Bandura menjelaskan terdapat 3 variabel yang saling
memengaruhi pembelajaran seseorang dalam kehidupan bersosial. Variabel
perilaku, individu dan lingkungan yang saling memengaruhi satu sama lain. Dalam
artian, ketiga interaksi variabel itu saling membentuk pengetahuan yang menjadi
landasan tindakan seseorang. Hal ini berhubungan dengan pembelajaran
observasional yang saya bahas sebelumnya. Landasan pembelajaran observasional
adalah 3 variabel yang saling berinteraksi.
Sebenarnya pembelajaran observasional terdiri dari beberapa tahapan. Namun, pada kesempatan kali ini saya tidak akan mengarahkan pembahasan ke arah sana. Saya hanya ingin menjelaskan kemungkinan motivasi remaja tersebut melakukan tindakan berbahaya adalah meniru lingkungan terdekatnya yaitu orang tua. Meskipun pada pembahasan kali saya lebih menekankan mengapa seorang remaja tersebut merakit petasan yang berbahaya, namun pembelajaran observasional dapat diterapkan pada orang lain tanpa batasan usia.
Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah hal ini
yaitu memberi nasihat kepada anak-anaknya mengenai hal-hal yang berbahaya
dilakukan. Hal ini didukung juga oleh tindakan orang tua agar melegitimasi apa
nasihatnya. Nasihat orang tua tidak akan berguna jika seorang figur terdekatnya
memberi contoh yang tidak sejalan. Selanjutnya, orang tua dapat
mengontrol circle pertemanan anak agar seorang anak tidak terpengaruh oleh
lingkungan pertemanan. Kita juga dapat berkontribusi mencegah peristiwa sejenis
dengan melakukan edukasi, baik melalui media sosial atau secara lisan. Jika
kita menemui peristiwa tersebut secara langsung, kita dapat menegur bahkan
melapor ke pihak berwenang. Tindakan dari pihak berwenang tentu akan lebih
terasa dampaknya, apalagi jika masalah tersebut menyangkut dengan keselamatan
umum.
Kesimpulannya, disadari atau tidak, seorang remaja atau anak
sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam masa pertumbuhannya. Pada masa ini,
keingintahuan mereka sangat besar. Mereka akan menyerap berbagai informasi dari
manapun, termasuk apa yang mereka lihat atau dengar. Maka dari itu, mari kita
sebagai orang dewasa dapat memberi pengetahuan pada remaja. Tidak hanya
pengetahuan yang bersifat teoritis dan verbal, namun juga contoh tindakan atau
lisan yang dapat dipelajari. Jika memang mereka meniru perilaku yang salah,
maka kita dapat memberi pelajaran dengan memberi tahu konsekuensi lalu memberi
alternatif perilaku tersebut.
Albert Bandura yang ahli pada bidang psikologi sosial menjelaskan
mengenai bagaimana seseorang belajar dari sosial. Pada kehidupan sosial, ada
interaksi yang membuat orang, perilaku dan lingkungan saling memengaruhi satu
sama lain. Dalam hal ini, mari saling mengingatkan dan membenarkan sesuatu yang
salah. Entah melalui kampanye media sosial atau hanya sekedar mengingatkan
dengan ucapan. Mungkin pada kesempatan lain, kita dapat belajar lebih detail
mengenai pembelajaran observasional Albert Bandura.
Penulis: Faezal Muhammad Nur

0 Komentar