Belajar dari Sebuah Tragedi, Anak adalah Imitator Hebat Orang tuanya


Ket. Foto: Ilustrasi Model Pembelajaran Observasional (Sprouts, 2022)

Ponorogo, MCPNU Ponorogo

Ketika remaja belajar dan mendapat izin melakukan tindakan berbahaya dari orang tuanya. Warga Dusun Cuet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo terkejut dengan adanya suara dentuman keras pada Minggu (01/03/2026) pukul 17:15 WIB. Suara tersebut berasal dari sebuah rumah yang menjadi markas perakitan petasan. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, ledakan tersebut terjadi karena merakit petasan, sebagaimana dikutip dalam detik.com.

Meskipun tidak ada statistik resmi dari pemerintah maupun lembaga terkait, dalam satu bulan terakhir sudah terjadi 3 kejadian mengenai ledakan petasan. Tiga kejadian tersebut berada di Grobogan, Tulungagung dan Ponorogo dengan skema yang sama yaitu remaja/pelajar terkena ledakan petasan yang dirakit. Berdasarkan informasi dari TribunNews Surabaya, kejadian di Ponorogo menewaskan satu orang remaja dan dua korban lainnya terkena luka bakar serta satu rumah hancur 90%. AKP Imam Mujali menghimbau masyarakat untuk menghentikan tradisi ini di Ponorogo.

“Tradisi Ponorogo saat puasa memang banyak buat petasan dan balon udara. Kita mengimbau masyarakat Ponorogo sudahlah jangan membuat petasan, tidak ada untungnya. Terbukti dengan kejadian-kejadian sebelumnya dan saat ini ada korban meninggal dunia,” katanya dikutip dari detik.com.

Seorang anak yang tewas merupakan anak dari seorang ibu yang menggunakan rumahnya sebagai markas perakitan petasan musiman. Mendengar kabar ini, saya terpikirkan untuk sedikit menjelaskan ada peran orang tua mengapa hal ini terjadi. Tanpa mengurangi rasa duka pada keluarga korban, mari kita sama-sama belajar memahami mengapa remaja bisa terpikirkan merakit balon yang membahayakan diri.

Dalam teori kognitif sosial, Albert Bandura menjelaskan bahwasanya pembelajaran tidak hanya melalui verbal atau teoritis. Kerangka pembelajaran yang menjelaskan hal tersebut yaitu pembelajaran observasional. Pembelajaran ini mencakup kegiatan belajar yang bisa dilakukan dengan cara memperhatikan atau menyimak cara berperilaku suatu individu. Singkatnya, seseorang dapat belajar melalui apa yang ia lihat dan dengar dari seseorang. Dalam konteks ini, korban belajar melalui orang tuanya. Mengapa demikian? Ibu dari korban memang sudah terbiasa merakit petasan dari beberapa tahun yang lalu. Hal ini membuat seorang anak melihat aktivitas orang tuanya sebagai contoh. Dengan demikian, anak beranggapan bahwa merakit petasan merupakan tindakan yang diperbolehkan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena orang tuanya melakukan hal demikian sehingga larangan verbal/lisan tidak efektif kalaupun ada.

Mengacu informasi dari TribunNews Surabaya, warga sekitar juga telah menegur pemilik rumah sekaligus ibu korban agar menghentikan aktivitas berbahaya tersebut. Namun, peringatan tersebut tidak dilaksanakan. Hal ini menunjukkan lingkungan sekitar berusaha memengaruhi tindakan tersebut. Dalam teori kognitif sosial, Albert Bandura menjelaskan terdapat 3 variabel yang saling memengaruhi pembelajaran seseorang dalam kehidupan bersosial. Variabel perilaku, individu dan lingkungan yang saling memengaruhi satu sama lain. Dalam artian, ketiga interaksi variabel itu saling membentuk pengetahuan yang menjadi landasan tindakan seseorang. Hal ini berhubungan dengan pembelajaran observasional yang saya bahas sebelumnya. Landasan pembelajaran observasional adalah 3 variabel yang saling berinteraksi.

Sebenarnya pembelajaran observasional terdiri dari beberapa tahapan. Namun, pada kesempatan kali ini saya tidak akan mengarahkan pembahasan ke arah sana. Saya hanya ingin menjelaskan kemungkinan motivasi remaja tersebut melakukan tindakan berbahaya adalah meniru lingkungan terdekatnya yaitu orang tua. Meskipun pada pembahasan kali saya lebih menekankan mengapa seorang remaja tersebut merakit petasan yang berbahaya, namun pembelajaran observasional dapat diterapkan pada orang lain tanpa batasan usia. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah hal ini yaitu memberi nasihat kepada anak-anaknya mengenai hal-hal yang berbahaya dilakukan. Hal ini didukung juga oleh tindakan orang tua agar melegitimasi apa nasihatnya. Nasihat orang tua tidak akan berguna jika seorang figur terdekatnya memberi contoh yang tidak sejalan.  Selanjutnya, orang tua dapat mengontrol circle pertemanan anak agar seorang anak tidak terpengaruh oleh lingkungan pertemanan. Kita juga dapat berkontribusi mencegah peristiwa sejenis dengan melakukan edukasi, baik melalui media sosial atau secara lisan. Jika kita menemui peristiwa tersebut secara langsung, kita dapat menegur bahkan melapor ke pihak berwenang. Tindakan dari pihak berwenang tentu akan lebih terasa dampaknya, apalagi jika masalah tersebut menyangkut dengan keselamatan umum.

Kesimpulannya, disadari atau tidak, seorang remaja atau anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam masa pertumbuhannya. Pada masa ini, keingintahuan mereka sangat besar. Mereka akan menyerap berbagai informasi dari manapun, termasuk apa yang mereka lihat atau dengar. Maka dari itu, mari kita sebagai orang dewasa dapat memberi pengetahuan pada remaja. Tidak hanya pengetahuan yang bersifat teoritis dan verbal, namun juga contoh tindakan atau lisan yang dapat dipelajari. Jika memang mereka meniru perilaku yang salah, maka kita dapat memberi pelajaran dengan memberi tahu konsekuensi lalu memberi alternatif perilaku tersebut. 

Albert Bandura yang ahli pada bidang psikologi sosial menjelaskan mengenai bagaimana seseorang belajar dari sosial. Pada kehidupan sosial, ada interaksi yang membuat orang, perilaku dan lingkungan saling memengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini, mari saling mengingatkan dan membenarkan sesuatu yang salah. Entah melalui kampanye media sosial atau hanya sekedar mengingatkan dengan ucapan. Mungkin pada kesempatan lain, kita dapat belajar lebih detail mengenai pembelajaran observasional Albert Bandura.


Penulis: Faezal Muhammad Nur

 


Posting Komentar

0 Komentar