Ponorogo, MCPNU Ponorogo
Azza Putri Ningtyas, Waka II Kaderisasi PAC IPPNU Sukorejo
berhasil menjadi finalis 20 besar Duta Pelajar PW IPPNU Jawa Timur. Kegiatan
yang bertemakan ‘Performance Measurement and Organizational Eligibility
Towards Sustainable IPPNU Growth’ membawanya berkesempatan mengikuti grand
final dan IPPNU award pada Ahad, (25/01/2026) di Gedung PWNU dan Hall Al Yasmin, Surabaya, Jawa Timur.
Mewakili Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Kabupaten Ponorogo di tingkat wilayah untuk pertama kalinya. Azza sempat ragu untuk mendaftar. Namun Ia dikuatkan oleh berbagai pihak.
“Motivasi awal untuk mengikuti kegiatan ini sebenarnya bukan dari diri sendiri, tapi dari dorongan alumni dan ketua PAC IPNU IPPNU Sukorejo. Saya ragu karena IPPNU Ponorogo pertama kalinya mendaftar dalam kegiatan ini dan saya baru bergabung di PAC tahun 2025,” katanya.
Rekanita yang lahir di Kediri pada 01 April 2005 ini mengenyam pendidikan menengah serta atasnya di Pondok Pesantren yakni MTs Ar-Rohman Magetan dan MAs Sulamul-Huda. Ia memegang erat 3 kata yang selalu digaungkan pelajar NU dimanapun berada.
“Orang yang mau berusaha, bersungguh-sungguh, dan yakin, pasti bisa sesuai motto Belajar, Berjuang, dan Bertakwa, ternyata benar dan selaras” ungkapnya.
Perjalanan yang ditempuh Azza untuk menjadi finalis Duta Pelajar ini melalui serangkaian tahapan panjang, mulai dari seleksi berkas yang semuanya mendapatkan support penuh dari pihak PC dan PAC.
“Saya banyak berdiskusi dengan ketua PC IPNU dan IPPNU pada masanya, Masduqi Mahfudz dan Azza Fahreza. Saya berniat belajar dengan sungguh-sungguh sesuai arahan yang diberikan,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, Azza turut menceritakan keseruannya selama mengikuti masa karantina yang berlangsung pada Jum’at hingga Ahad (09-11/01/2026). Tidak hanya belajar dari segi konten saja, tapi dirinya bersama finalis lain diajak langsung untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh ketika ditugasi menjadi duta.
“Selama karantina, kami dibekali materi untuk menjadi duta dengan penguatan ke-NU-an dan IPPNU, kemudian diadakan beauty class. Pada saat Focus Group Discussion (FGD) para finalis tidak boleh saling memojokkan atau menyerang personal, tapi mencari problem solving dari masalah yang ada di PC masing-masing. Selain itu, keberjalanan dari karantina ini diserahkan kepada finalis, kami dilatih menjadi MC, moderator, dirigen dan segala persiapan lainnya,” terangnya.
Karantina yang ia rasakan selama 3 hari itu layaknya keluarga. Bukan saling menganggap sebagai musuh, tapi sama-sama ingin tumbuh. Seluruh Finalis Duta Pelajar Jawa Timur merupakan Duta Pelajar dari PC masing-masing sehingga tidak heran jika jam tayangnya sudah tinggi. Tidak ingin melewatkan momen bersama seluruh finalis, Azza mengaku banyak bertukar pikiran.
“Saya ingin mengambil semua ilmu dan pengalaman serta menjalin relasi dengan para finalis dari berbagai kabupaten di Jawa Timur. Hal ini saya lakukan sambil menguatkan diri bahwa saya berada di antara mereka adalah hal yang perlu diapresisasi, mungkin takdirku memang disini,” imbuhnya.
Ia melanjutkan bahwa penilaian Duta Pelajar PW IPPNU Jawa Timur dinilai dari beberapa aspek, setelah melalui tes bahasa, problem solving, keseharian, dan psikolog.
“Penilaian Duta Pelajar ini mulai dari segi personal branding, kesopanan dan cara bersosialisasi. Kinerja nyata bukan hanya dinilai saat karantina, namun yang lebih penting eksekusinya di masyarakat. Pembuktian ini dapat dilihat dari realisasi project yang diusulkan,” ujarnya.
Azza mengungkapkan bahwa jarak antara karantina dengan grand final cukup jauh sehingga ada waktu untuk melaksanakan projectnya. Ia ingin mengedukasi ke generasi muda tentang makna sebenarnya dari belajar.
“Saya mengambil tema motivasi belajar untuk pembuatan project karena adanya bullying dan isu terkait mental health, salah satunya disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar siswa. Belajar tidak hanya masuk kelas atau kampus, mendapatkan pelajaran dan selesai hanya disitu. Namun belajar, benar-benar untuk memperoleh ilmu sebagai bekal mengarungi kehidupan,” tegasnya.
Ia turut melakukan berbagai upaya dalam merealisasikan inovasinya ini dengan terjun langsung di sekolah untuk berkomunikasi dengan
siswa dan guru.
“Saya berusaha menumbuhkan motivasi belajar dengan mendekatkan diri ke rekan-rekanita melalui sosialisasi dan memberikan solusi pada sesi tanya jawab. Kemudian saya memberikan informasi kepada pendidik bahwa penguatan pribadi juga penting. Pengalaman yang saya dapatkan selama mondok benar-benar terasa manfaatnya saat ini,” pungkasnya.
Penulis: Dina Kamilasari
Editor: Arisel Wiji Aningrum

0 Komentar